Perkembangan dan Peninggalan I「Live entertainment」slam di Sumatera

  • 时间:
  • 浏览:0

SeteLLive entertainmentive eLive entertainmentntertainmentlah Islam masuk di Sumatera Utara, orang Sumatera leLive entertainmentbih terbuka untuk berinteraksi kepada para pedagang.

Hal itu didasarkan pada jenis batu nisan di Kota Rentang, hikayat raja-raja Pasai, sejarah Melayu atau kunjungan Marcopolo pada 1292.

Kemudian berkembang ke Lamuri (Banda Aceh), Aru, dan baru ke Pasai. Sumber tersebut dibuktikan dengan adanya batu nisan yang ada di Kota Rentang, Barus.

Perkembangan Islam di sana sangat pesat. Banyak peninggalan-peninggalan sejarah pengarus Islam.

KOMPAS.com - Masuknya Islam di Pulau Sumatera dipercaya sebagai cikal bakal penyebaran Islam di Nusantara.

Bukti-bukti penyebaran kebudayaan Islam masih dapat dijumpai hingga kini, diantaranya adalah masjid dan makam-makam.

Di sana banyak ditemukan sebuah makam kuno di komplek pemakaman Mahligai, Barus. Dalam batu nisan tertulis bahwa Syaikh Rukunuddin wafat pada 672 M.

Baca juga: Teori Masuknya Islam di Nusantara

Kemudian karena baiknya hubungan baik antara masyarakat lokal dengan para ulama yang datang dari negara Arab.

Dikutip situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Barus disinyalir sebagai perkampungan Islam tertua di Nusantara.

Dalam hikayat raja-raja Pasai dan sejarah Melayu disebutkan bahwa Nakhoda Ismail dan Fakir Muhammad datang dari Mekkah pertama mengislamkan Barus.

Dari Kesultanan Aceh inilah kemudian pengaruh Islam menyebar keseluruh Nusantara.

Bahwa penguasa Aru, Sultan Husi n menjadi bukti jika Kerajaan Aru telah beragama Islam.

Maka daerah Kota Rentang, Hamparan Perak sudah menjadi kawasan penting sejak abad itu. Selanjutnya Kerajaan Aru/Haru sudah dipastikan sebagai kerajaan Islam sejak pertengahan abad ke-13 M.

Kedatangan agama Islam pertama kali di Indonesia melalu Barus sebuah daerah yang terletak di Pantai Barat Sumatera pada abad ke-7 yang pada waktu itu si Sumatera telah berdiri Kerajaan Sriwijaya yang bercorak Buddha.

Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas muslim di Barus sudah ada pada era itu.

Masuknya Islam ke Indonesia khususnya Barus melalui berbagai macam cara, seperti perdagangan, pernikahan dan tasawuf.

Pada akhir abad itu, pedagang Arab mulai menjejakan kakinya di pelabuhan Barus untuk melakukan perdagangan dan penyebaran agama Islam.

Dari situ sehingga terbentuklah komunitas muslim. Islam diterima baik di Sumatera Utara, karena tidak memandang kasta layaknya agama Hindu-Buddha.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

Sebelum masuknya Islam ke Sumatera, penduduk Sumatera sudah terlebih dahulu memeluk agama Hindu dan sebagian menganut agama parmalin.

Dari periode temuan itu dipastikan jenis batu nisan di Kota Rentang sudah digunakan sejak abad ke-13 M.

Terdapat juga makam Syaikh Ushuluddin yang panjangnya kira-kira 7 meter.

Para pedagang Arab kemudian menikah dengan wanita lokal dan memiliki keturunan.

Setelah masuknya Islam, perkembangan selanjutnya dilakukan oleh Kerajaan Aceh terhadap beberapa kerajaan di Sumatera dan wilayah lain.

Batu nisan penguasa pertama Kerajaan Samudera Pasai berangka tahun 696 Sultan Malik Al Saleh. Ini merupakan bukti utama wangsa muslim di kawasan Indonesia-Malaya.

Baca juga: Snouck Hurgronje, Tokoh Orientalis yang Mempopulerkan Teori Gujarat

Dalam buku Sejarah Politik dan Kekuasaan (2019) karya Tappil Rambe dkk, pada abad ke-7, Barus sudah tersohor hingga Eropa dan Timur Tengah karena penghasil kapur barus dan rempah-rempah.

Baca juga: Pengaruh Islam di Bidang Sosial, Sistem Kasta di Masyarakat Pudar

Selain dari perdagangan masuknya Islam ke daerah Sumatera juga dipengaruhi oleh kerajaan- kerajaan yang ada di Sumatera. Serta dakwah dakwah dari wali-wali atau ulama yang ada pada saat itu.

Selanjutnya dikembangkan ke wilayah Aceh dan menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Pembawa agama Islam ke Indonesia adalah para pedagang dari Gujarat dan orang-orang Persia, kemudian orang-orang Arab.