Real Money Gambling Site_Indonesian Gaming Company_BetVictor_Baccarat Platform Collection

  • 时间:
  • 浏览:0

Kesukaan Football bettFootball betting platforming platformorang sama satu penulis kan bisa karena banyak hal. Mungkin orang lain menemukan kelebihan dari si penulis yang luput dari perhatian kita? Atau, karya satu penulis itu berbekas manis di pikiran pembacanya sampai dia mengikuti semua karya-karyanya. 

Nah, selain membandingkan genre bacaaan, ada satu proses yang bisa bikin orang lain malu dengan kebiasaan membaca dan preferensi bacaan mereka, yaitu membandingkan penulis favorit satu sama lain. Kalau kita suka menganggap remeh orang yang penulis favoritnya berbeda dengan kita.

Kalau ini kebalikan dari poin di atas. Apakah kita punya teman yang bacaannya agak nggak biasa? Kalau ada, kita nggak usah menganggap orang lain sok pintar atau mengira orang tersebut lagi bangun citra pintar. Karena mungkin tema bacaan yang nggak biasa itu adalah ketertarikan dia.

Nggak ada yang salah, kok, dengan memiliki genre favorit masing-masing. Nggak suka satu genre nggak membuat kita lebih buruk dari yang lain. Begitu juga sebaliknya. Suka satu genre nggak membuat kita tiba-tiba jadi lebih baik dari orang lain.

Jadi yuk stop membanding-bandingkan penulis favorit kita dengan orang lain!

Siapa di sini yang sudah pernah mendengar istilah 'body-shaming'? Pasti sebagian besar orang pernah mendengar dan paham apa maksud dan efeknya. Tapi, apakah kalian pernah dengar istilah -shaming yang lain? Salah satu kebiasaan menghina yang sering muncul adalah 'book-shaming' alias menghina atau mempermalukan seseorang atas bacaan dan kebiasaan membacanya. Kebiasaan ini sering lho terdengar dan dialami cuma kadang kita nggak sadar kalau yang kita lakukan itu udah masuk ke ranah menghina atau shaming orang lain. Apa aja sih kebiasaan yang termasuk book-shaming? Yuk dicek!

Kalau ada orang yang hanya suka baca buku genre romantis memang kenapa? Atau kalau ada yang lebih suka baca buku biografi daripada bacaan fiksi. Menganggap satu genre lebih baik atau buruk itu bisa masuk ke kategori book-shaming, lho. Jadi mending kita nggak usah membandingkan favorit kita dengan orang lain.

Siapa yang suka menganggap orang dewasa yang baca buku teenlit atau komik kekanak-kanakan? Atau orang yang baca buku romantis itu cengeng dan sendu? Nah, itu label yang jangan sampai kita berikan ke orang lain. 

Setiap orang pasti punya minimal satu genre bacaan favorit. Genre yang disukai pun kemungkinan akan berbeda satu sama lain. Satu genre yang di favoritkan seseorang bisa jadi merupakan genre yang dibenci orang lain. Lalu bagaimana perbedaan minat genre bisa masuk ke ranah book-shaming? Book-shaming soal genre ini muncul waktu kita menghina genre favorit orang lain.

Lebih baik kita biarin aja orang-orang membaca apa yang ingin mereka baca. Bukannya bagus kalau orang-orang masih menyempatkan diri untuk membaca?

Bacaan dengan tema kaya gitu memang bukan cup of tea-nya semua orang. Jadi, nggak perlu merasa kita lebih baik dari yang lain. Oke?

Kalian termasuk orang yang suka baca buku yang temanya agak berat? Bagus! Suka baca buku soal misteri alam semesta, sejarah tentang tuhan, asal-usul Homo Sapiens atau tema sejenisnya itu keren, kok. Hanya saja, jangan kebablasan dengan menghina dan menanggap diri kita lebih baik dan pintar dari orang lain yang belum baca buku-buku dengan tema sejenis itu.

Kita nggak bisa berharap semua orang akan baca bacaan yang sama dan itu-itu aja. Pasti ada dari kita yang suka hal-hal yang nggak disukai semua orang. Apakah orang-orang tersebut membaca agar terlihat pintar? Belum tentu. Siapa tahu dia hanya ingin memecahkan rasa penasarannya soal isu tertentu. Bisa aja, kan?

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Selain nggak boleh membandingkan genre favorit kita dengan yang lain, kita juga jangan sampai menyematkan label ke orang lain dengan melihat bacaannya.