Casino platform registration_Indonesia online casino site_Football Handicap Teaching_The only way to win baccarat

  • 时间:
  • 浏览:0

GFootball bettiFootball betting aFootball betting appppng appalau di depan telepon.

Sebelum ada ponsel telepon umum berguna banget pada masanya, terutama saat kamu tersesat di pasar dan harus menghubungi bapak di rumah supaya bisa dijemput.

Setelah tarik-tarikan gagang telepon, suara diujung sana ternyata dari petugas Telkom yang ingin memastikan sambungan rumahmu bagus. Gak papah, yang penting bisa angkat telepon.

Kamu dan keluarga yang udah bertahun-tahun pakai telepon rumah dulu pasti sering mendengar perubahan tarif telepon lokal maupun interlokal, namun sayangnya kamu enggan untuk mempelajari angka pastinya berapa. Pokoknya yang kamu tahu adalah tarif telepon berubah, entah berapa.

Kamu          : Ini telepon, buat menelepon orang. Sama kayak iPhone.

Entah ini merupakan keuntungan atau kerugian menyambung lebih dari satu telepon dalam satu rangkaian paralel, tapi kamu paling benci ketika ada yang nguping pakai telepon lain saat kamu lagi asik teleponan sama teman.

Kamu       : Biar aku angkat!

ABAAANG! CABUT KABEL TELPONNYA JANGAN BUAT MAINAN. BAPAK GAK BISA NELPON INI!

Pacar: Sayang, kamu yakin nelpon interlokal selama ini?

*tapi dari tagihan telepon bisa ketahuan kalau kamu pelakunya*

Denger cerita dari Oom-oom dan tante-tante yang dulu kuliah di perantauan, kalau malam minggu antrian di bilik wartel jauh lebih panjang dari antrian tiket bioskop. Ngantri lama dikit gak apa-apa, yang penting rindu pada keluarga, pacar dan mantan pacar bisa disampaikan. Bener gak, Om?

Buat apa pasang telepon? Kan bisa pake telepon di rumah pak Abdul.

Tapi kenangan soal telepon bukan soal tarif lokal dan interlokal doang, kok. Mari kita nostalgia ke era 90-an hingga awal 2000-an, masa ketika telepon rumah berada pada puncak kejayaan.

Ponsel membuat kamu jarang mengunakan telepon rumah sekarang. Terlupakan, ditoleh pun nggak. Tagihan yang datang tiap bulan hanya berupa iuran abodemen dan denda keterlambatan bayar tagihan bulan lalu sebab ibu sudah lupa kalau di rumahnya masih ada telepon rumahan.

Makasih, Yellow Pages. Kamu sudah mewarnai menguningkan hidupku.

Lagi-lagi karena penasaran dengan yang namanya internet serta didukung teknologi dial-up connection yang praktis, kamu bertekad menyulap telepon rumah menjadi benda yang sekarang dikenal sebagai router.

Keponakan : Itu benda apa, om?

Meski begitu kami tetap mengenang kehadiranmu. Kami merindukan masa dimana kami harus berada di rumah untuk menerima dan membuat panggilan, tidak seperti sekarang saat kami bisa ditelepon kapan saja. Kami merindukan saat kamu benar-benar memutar angka pada rotator bukan tombol. Telepon rumah, terima kasih karena telah hadir dalam kehidupan kami.

kini telepon dikunci. Bahkan kalau perlu pad nomornya juga digembok bisa kamu gak bisa menekan ‘sembarang’ tombol lagi.

Kamu   : Makasih ya, Niko. Kamu baik banget, deh.

Kalau nelpon si Ahmad anak kampung sebelah interlokal gak ya?

Kamu: Hah, ini interlokal, toh?!! (Klik)

Telepon yang jelas bukan barang baru, sejak dikembangkan dari tahun 1800-an hingga masuk ke rumah keluarga di tahun 1970-an, pelan tapi pasti gaya hidup manusia mulai berubah sejak ada telepon. Komunikasi jadi lancar. Keluarga yang berjauhan jadi lebih dekat, meski cuma bentar ngomongnya (SLJJ, bung!).

*pura-pura mati*

Keponakan: Oh, kok pake kabel? Ada app apa aja? Layarnya mana?

Wartel adalah pilihan utama buat menghubungi perangkat telepon lain bagi mereka yang rumahnya belum terjamah oleh jaringan Telkom. Datang ke wartel, bikin panggilan lalu batar tagihannya di kasir. Jalan agak jauh dari rumah gak apa-apa, yang penting kabar bisa disampaikan.

Dan alamat beserta nomor telepon rumah kamu juga tercantum di dalam buku bernama Yellow Pages tersebut. Anehnya, kamu malah bangga karena merasa bangga menjadi bagian dari Telkom. Padahal kalau dipikir-pikir lagi sekarang, apa yang menyenangkan dari nama, alamat dan nomor telepon terpampang di ruang publik? Bukannya itu serem?

Keluarga yang memilih menggunakan satu perangkat telepon doang cenderung meletakkan alat komunikasi tersebut di ruang keluarga. Akibatnya kamu gak bisa sayang-sayangan”, gak bisa mesra dan sok manja waktu nelepon pacar. Soalnya orang tua dan saudaramu turut memperhatikan dari depan televisi. Kaku!

Ibumu     : Mungkin teman arisan Ibu, nak.

Gak sepadan. Hukumannya potong uang jajan, padahal internetnya cuma dipake untuk browsing. Bukan situs yang macam-macam, kok